FiRaSaT

Malam yang begitu melelahkan. Tlp pun terus berdering. Mengusik tidur yang lelap. Diripun mengangkatnya. Cengkramapun di mulai. Janji pun  terucap tuk bertemu esok. Malampun berlalu. Gelap menjadi terang.

Pagi ini ku bangun sperti biasa. Ku mulai aktifitas ku di rumah. Namun hari ini, Aku hendak bersihkan atap rumah. Yang tertutup dedaunan kering. Aku pun di suru menebang beberapa ranting pohon yang berada di atas genting.

Aku mulai menebang dengan perlahan. Namun parang yang aku gunakan terlepas dari pegangannya. Aku tancapkan kembali dan memukulkan ke batang pohon agar lebih rapat. Emang dasar sial, tangan ku terjepit. Namun itu tak menyurutkan niatku.

 

Aku melanjutkan menebangnya dengan memanjat atap rumah. di atas genting aku berpijak menebang ranting pohon. Dari atas terus turun ke bawah. Dengan perlahan aku turunkan ranting yang telah ku potong. kubersihkan dedaunan kering yang berada di atas genting.

Kini aku mulai membersihkan di atas atap pelataran. Kulihat seorang petani membawa cangkul berangkat ke sawah. Kupun menyapa dan tersenyum padanya walau aku berada di atas.  Serasa mengisaratkan hormatku padanya. Namun lagi-lagi aku terkena musibah. Atap yang aku injak pecah, kayunyapun patah. Kaki ku masuk kedalam dan sebagian tubuhku pun mengikutinya. Seakan atap itu kan menghempaskanku ke bawah. Aku terus bertahan dengan berpegang pada tepi atap di belakangku.

Petani yang tadi ku sapa kembali, mendengar gemuruh pecahnya atap yang aku injak. Dengan sigap sang petani memegang pegangan cangkul dan menjulurkannya. Beliaupun  berkata, injak ini saja. Namun aku tak tega bertumpuh di atas tubuh tua renta itu. Aku pun berusaha naik kembali ke atas dengan mengandalkan kedua tanganku. Tak lama kemudian akupun kembali di atas.

Sambil duduk di atas atap yang masih kokoh. Kulihat di mana aku hampir terjatuh. Ku ambil beberapa puing atap yang masih menempel di atas. Kulihat kayu penyangga atap yang sudah rapuh itu. Akupun turun ke bawah dan naik kembali tuk membersihkan di seberangnya. Dengan memotong kembali beberapa ranting dan membersihkan dedaunan kering. Akhirnya selesai juga, walau dengan sedikit menahan rasa sakit di kakiku. Aku mulai menyapu halaman yang telah di penuhi dedaunan kering itu.

Firasat apakah smua kejadian itu. Padahal nanti sore aku mau keluar ama teman aku. Ya allah tolonglah aku, berikan petunjukmu. Turunkanlah hujan jika memang nanti kan terjadi sesuatu yang buruk. Akupun bersiap berangkat kerja, namun saat aku berada di kamar. Telingaku berdenging, Seraya ada panggilan dari akhirat. Ya Allah berikanlah petunjukmu, ku serahkan hidupku padamu. Kau yang menghidupkanku, yang menghidupiku, yang menuntunku selama ini dan kaupula yang mengatur smuanya. Ya Allah Kau takdirkan aku lahir di keluarga yang baik dan dengan cara yang baik pula makah jika ini pertanda akhirku. Berikanlah akhir yang terbaik untukku ataupun untuk orang-orang yang ku tinggalkan. Jangan biarkan semua yang baik menjadi buruk.

 

AMIN

Advertisement
Published in: on 27 November 2010 at 2:26 am  Leave a Comment  

The URI to TrackBack this entry is: http://thimit.wordpress.com/2010/11/27/firasat/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.