Ya Allah ampunilah aku yang hanya bisanya mengeluh,
bersedih dan meratap
aku tahu engkau memberikan yang lebih baik dibalik setiap kejadian
aku juga mengerti semuah ini ujian
Tapi ya Allah sungguh berat dua bulan ini
aku merasa tidak dihargai lagi sebagai manusia
Aku berusaha sabar dan hanya tersenyum saat terjadi.
Namun mengapa dia lakukan lagi?
tidak cukupkah kesabaranku
aku mengerti aku bukan siapa-siapa
tapi jika tidak suka, biarkan aku menjalani hidupku sendiri
bekerja bagaimana mestinya, akupun tidak pernah mengganggunya.
aku sudah berusaha cuwek apapun yang terjadi.
namun ini muka orang bukan ayam
aku sudah mandi, aku juga sudah berwuduk
tak kah mereka fikir aku manusia biasa
punya ambisi juga amarah
ratapanku
Cintaku bertepuk sebelah tangan
Hari berganti hari
Kesendirian merenggut keceriaan jiwa
Sunyi membelenggu langkah
Tak kah sentuhan cinta datang
Menghampiri seperti angin silir di tengah sawa
Padang rumput menghibur memecah kesendirian
Ceria datang menghampiri
Bukan senyum namun derita ku rasa
Genggam lembut mu kini menjadi belenggu bagiku
Senyummu membawah gelisah
Kini engkau bagai padang pasir yang terus membakarku
Inginku tinggal namun hati tercabik
Kau berikan senyum dalam hati dia
Aku terbakar hangus olehnya
Namun aku tak sanggup meninggalkan
Entah akankah smua akan berakhir
Hingga kini aku masih mengharap kata cinta darinya..
Tahun baruku
Hari yang sunyi, hening tanpa bisik
merenung mengharap teman setia
gunda selalu menusuk di relung hati
sedih slalu menghantui setiap langkah
menjadikan diri merasa hina, bagai nasi busuk
tak berdaya bagai terbelenggu
hari yang menyedihkan
hari berganti malam yang gelap dan semakin sunyi
kucoba berbisik namun tak seorangpun yang menjawab
kucoba mengusir sunyi namun makin menusuk
kesendirian seakan tak kan pergi
waktu begitu lama tuk berlalu
hidupku begitu hampa hari ini
Terdengar kebisingan memecah hening
tengah malam yang gelap sontak menjadi riang
mreka teman sejatiku
datang mengisi kesunyian dalam hatiku
tertawa menghabiskan malam
Menjadikan keakraban tak berbatas
bagai di tengah keramaian kota
inilah bahagiaku
inilah sahabatku
inilah tahun baruku yang ceria
Miris nasib SDN SUMBERGEDANG II Pandaan
Bertahun-tahun Bpk Sugiyo manjadi PPSD di SDN SUMBERGEDANG II Pandaan. Beliau bekerja sebagai pegawai negeri pembantu pelaksana sekolah dasar. Beliau tingal di Impres sekolah tersebut beserta keluarga.Dengan istri dan 2 orang anaknya beliau tinggal. Rumah yang sekitar 20 tahun beliau tinggali. Namun tak pernah ada perbaikan. Walau di sana-sini terdapat kerusakan dan kayu atapnya mulai keropos serta gentingnya pun ada beberapa yang jatuh. Pihak pemerintah daerah tetap tidak kunjung memperbaikinya, walaupun berkali-kali di ajukan perbaikan.
Beberapa kali SDN SUMBERGEDANG II mendapatkan bantuan dari pemerintah namun bukan untuk perbaikan Impres yang keadaannya memprihatinkan. Dana yang di dapat hanya untuk pembangunan sekolah serta lapangan olahraga. Sekian tahun Impres tidak mendapatkan perhatian.
Bpk sugio sebenarnya sudah pensiun sekitar 5 tahun lalu. Namun beliau masih di minta untuk tetap bekerja sebagai PPSD dan tinggal di sana. Dengan gaji Rp 200.000 perbulan beliau tetap tinggal di rumah yang jauh dari layak tersebut, menjaga serta membantu di sekolah tersebut. Dengan jiwa sosialnya beliau menyanggupinya. Dengan pertimbangan beban ekonomi yang semakin berat tidak ada seorangpun mau bekerja dengan gaji Rp 200.ooo perbulan.
Masyarakat sekitarpun lebih memilih bekerja sebagai karyawan perusahaan yang gajinya lebih tinggi. Kegigihan dan jiwa sosialnyalah yang mendorong Bpk sugiyo tetap bertahan. Tinggal di rumah dengan 2 kamar, dapur tanpa dinding, ruang tamu yang kecil tanpa ada sofa ataupun meja, ruang tamu yang jika malam tempat sepeda motor satu-satunya milik Bpk sugiyo.
Tuhan maha segalanya di dunia ini. Setelah bertahun-tahun Impres tidak di perbaiki akhirnya roboh. Pada tanggal 09 Desember 2010 sekitar jam 13.30 angin puting beliung membawa atap rumah itu terbang. Sekolah yang tidak pernah di perbaiki tersebut menjadi semakin mengenaskan.
Tembok yang mengelilingi Impres roboh atap Impres rusak berat, kantor sekolah serta beberapa kelas juga atapnya rusak semua. Untung saja BPK Sugio beserta keluarganya selamat. Saat kejadian mereka berada dalam rumah. Selain Bpk Sugiyo sekeluarga juga ada beberapa anak les. Mereka membantu Bpk Sugiyo dan keluarga memegangi pintu yang di terpa angin puting beliung agar tidak masuk rumah dan menghancurkan smua.
Isi rumah Impres yang di tinggali Bpk sugiyo penuh air. Tak satupun barang yang terselamatkan, televisi, pakaian, buku-buku anaknya dan lainnya basah. Sungguh memprihatinkan bukan itu saja isi kantor sekolah dan beberapa kelas lainnya juga seperti itu. Semuanya terguyur hujan, pohon mangga di depan sekolah pun ikut tumbang serta pohon nangka depan imprespun ikut tumbang. Bpk sugio mengungsikan anak-anaknya ke rumah orangtuanya. Beliau beserta istrinya tetap tinggal di sana semalaman demi menjaga barang-barang sekolah agar tidak ada yang hilang. Karena kejadian tersebut semakin mempermudah orang luar masuk. Bpk Sugiyo tidak menyerah beliau masih memungut beberapa puing genting yang bisa digunakan dan memasangnya kembali. sebelum ada dana perbaikan dari pemerintah daerah untuk tinggal sementara.
Inilah potret kehidupan sesama pegawai negara. Mereka wakil rakyat dn penjabat lainnya tidur di dalam rumah mewah dan mobil mewah serta gaji yang cukup besar. Namun para Guru kita jauh dari kelayakan, sekolah kita pun memprihatinkan. hanya sekolah yang berada di perkotaan dan sekolah swasta yang mewah. Sekolah dasar negeri saat ini sangat membutuhkan perhatian tuk perbaikan bukan untuk sekedar pembangunan fasilitas baru. Semoga dengan kejadian ini para wakil rakyat dan pemerintah lebih jelih lagi.





